Puskesmas Puriala
Puskesmas Puriala (Foto : Google Maps/Wiwid/Okesultra.com)
Puskesmas Puriala
Puskesmas Puriala (Foto : Google Maps/Wiwid/Okesultra.com)

OKESULTRA.COM, KENDARI – Cerita buruknya pelayanan kesehatan di bumi Anoa ini seakan tak ada habisnya. Kali ini, pelayanan yang ‘buruk’ kembali terjadi di Puskesmas Puriala, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kejadian itu terjadi pada Senin, (10/4) sekitar pukul 21.30 malam. Saat itu salah seorang masyarakat mengantarkan rekannya yang terluka parah dan harus mendapat pertolongan ke Puskesmas Puriala. Namun, saat tiba di Puskesmas, kondisi Puskesmas tutup dan tak ada satupun petugas jaga.

Karena panik, keluarga korban lalu membawa korban ke Puskesmas Lambuya. Namun sayang, saat diperjalanan korban tak terselamatkan.

Cerita betapa buruknya pelayanan di Puskesmas Puriala itu lalu dituliskan oleh rekan keluarga korban di media sosial Facebook. Kabar itu lalu viral dan sampai ditelinga Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan Sultra.

ORI kemudian merespon, selanjutnya menghubungi keluarga korban, pada Selasa (11/4) dan selanjutnya ORI langsung bergerak ke lokasi. Sekitar pukul 23.30 tim ORI Sultra tiba di Puskesmas Puriala.

Cerita betapa buruknya pelauanan di Puskesmas Puriala itu benar adanya, Puskesmas tersebut sudah dalam kondisi tutup saat tim ORI tiba dan tak ada satupun petugas jaga.

“Setelah kami cek, Puskesmas tersebut tidak buka pelayanan 24 jam,” terang Plt. Kepala Perwakilan Ombudsman Sultra, Ahmad Rustan, SH. MH. kepada Okesultra.com, Rabu (11/4).

Yang lebih memiriskan, kata Ahmad Rustan, saat itu Tim ORI Sultra menemukan ada satu pasien yang baru melahirkan, akan tetapi menurut kerabat pasien yang ditemui, bidan yg bertugas sudah pulang pada pukul 22.00 Wita sehingga pasien tersebut berada di Puskesmas tanpa seorangpun petugas medis.

Mengenai temuan itu, ORI memberi beberapa rekomendasi ke Puskesmas Puriala. Pertam, Puskesmas perlu memberi informasi yang memadai kepada masyarakat mengenai jam pelayanan.

Kemudian, petugas medis pada pelayanan persalinan harus tetap tersedia. Selama ada pasien, seharusnya tetap ada petugas yg mendampingi.

Permasalahan ini, kata Ahmad, ORI telah melakukan pertemuan dengan Sekda Konawe untuk melakukan evaluasi layanan agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yg baik dan berkualitas.

ORI juga meminta agar Pemda memperhatikan kuantitas dan kualitas penyelenggaraan layanan pada Puskesmas.

“Pelayanan akan sulit dilakukan dengan baik jika jumlah petugasnya sendiri terbatas. Sekda berjanji akan menindaklanjuti temuan ORI,” tutupnya.

Kepala Puskesmas Puriala, Anwar SKM, saat dikonfirmasi Okesultra.com melalui telefon selulernya, Kamis (12/4), membenarkan seluruh kejadian yang dikonfirmasi oleh ORI.

“Iya benar pak, jadi memang kejadian seperti itu,” kata Anwar.

Anwar mengatakan, sebenarnya Puskesmas Puriala membuka pelayanan 24 Jam, dan jadwal petugas jaga sudah diatur. Setiap hari, selama 24 jam Puskesmas Puriala menyediakan tiga petugas jaga, 1 dari tenaga bidan dan 2 orang dari tenaga perawat.

Anwar mengakui, bahwa saat kejadian kecelakaan tidak ada petugas jaga dan IGD dalam kondisi tertutup.

“Iya, kita harus akui itu kesalahan kami pak,” katanya.

Mengenai pasien melahirkan yang ditinggalkan bidan jaga, Anwar mengklarifikasi bahwa pasien tersebut masih dalam pantauan bidan. Namun, saat itu bidan yang bertugas pulanh kerumahnya untuk makan siang.

“Kebetulan pak, rumah bidan itu dekat dengan Puskesmas. Jadi bidan pulang makan, ” katanya.

Anwar juga membenarkan, bahwa di Puskesmas Puriala tak punya dokter. Sehingga koordinasi untuk pasein dengan penyakit yang parah berkoordinasi dengan Puskesmas Lambuya.

“Kami berkoordinasi dengan puskesmas Lambuya. Jika ada pasien luka parah dan segera mendapat pertolongan, bisa langsung di bawa ke Puskesmas Lambuya tanpa adanya surat rujukan,” katanya.

Laporan : Wiwid Abid Abadi

Tulis Komentar Anda Disini