Gagan Syaputra. (Foto: Istimewa).
Gagan Syaputra. (Foto: Istimewa).
Gagan Syaputra. (Foto: Istimewa).
Gagan Syaputra. (Foto: Istimewa).

OKESULTRA.COM, KENDARI – Seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat provinsi telah usai, namun dibalik suksesnya seleksi itu menyisahkan luka traumatik bagi salah seorang peserta.

Gagan Syaputra, siswa SMPN 1 Napano Kusambi dua bulan lalu telah mengikuti seleksi O2SN tingkat kabupaten di Muna Barat.

Keluar sebagai juara 1 dalam cabang olahraga atletik lari 100 meter, lompat jauh dan tolak peluru tingkat pelajar SMP se-Mubar.

Setelah meraih sukses diseleksi cabang atletik, Gagan Syaputra terus menempa diri dengan berlatih untuk mempersiapkan fisik dan mental mengikuti O2SN tingkat provinsi 30 Agustus – 4 September 2018.

31 Agustus 2018, Gagan yang tiba di Kendari dan langsung bertolak ke salah satu venue di Universitas Halu Oleo berlomba dicabor atletik dengan peserta dari 17 kabupaten/kota se-Sultra.

Tak ada konfirmasi, naas bagi Gagan yang tidak dipertandingkan dan malah digantikan oleh atlet lain yang berasal juga dari Mubar, ia merasa bingung dan sangat malu didepan umum.

Ia kemudian menangis, setibanya di penginapan atlet, ia kemudian menelfon orang tuanya di kampung untuk mengadukan kejadian yang memalukan itu.

Spontan ibunda Gagan, Wa Abe meminta kepada kakaknya yang tengah berada di Kendari, Kardiandi untuk menengok Gagan.

“Saya diberitau oleh ibu korban melalui telpon pukul 21:15, tanggal 31 agustus 2018 untuk segera ke hotel melihat kemanakan saya La Gagan yang tidak dipertandingkan di hari itu”.

“Saya langsung pergi ke tempat penginapan kontingen Mubar, setelah saya bercerita dengan adik saya, saya kemudian bertemu dengan pak Umbas, ketua kontingen O2SN Mubar”.

Kerabat yang meminta alasan mengapa Gagan tak bertanding, pihak kontingen Mubar berdalih adanya seleksi kembali yang dilakukan sehingga tak menyertakan nama Gagan dalam lomba.

“Tanpa sepengetahuan korban, ada seleksi dalam seleksi, hari ini kita telah di pertontonkan dengan sistem pendidikan yang tidak mendidik bagaimana tidak, sebagai salah satu lembaga tertinggi yaitu lembaga pendidikan sudah tidak memberikan pendidikan yang baik,” tutur Kardiandi.

Jelas hal ini membuat keluarga Gagan geram dan sangat menyesalkan kejadian semacam ini, pihaknya pun akan meminta penjelasan kepada Dinas terkait.

“Secara tidak langsung Dinas Pendidikan Mubar telah memporak-porandakan mental Gagan.

Pihak keluarga Gagan menuding adanya intrik permainan dalam sistem seleksi yang tak transparan dan akan merugikan.

“Sejauh ini Gagan sudah malas ke sekolah dan terus diam mengurung diri di dalam kamar, karena mental dan juga rasa malu, malu terhadap masarakat dan juga malu kepada teman-teman sekolah”.


Laporan: Andise SL

Tulis Komentar Anda Disini