OKESULTRA.COM, KENDARI – Gelombang protes atas kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan remisi bagi Susrama, terpidana pembunuhan seorang jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa terus mengalir.

Kali ini datang dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sultra. Menurut Ketua IJTI Sultra, Asdar Zula pemberian remisi bagi Susrama sama artinya membenarkan aksi kriminal terhadap jurnalis, dan tentu bisa mengancam kebebasan pers di Indonesia.

“Remisi ini seakan memberikan pembenaran terhadap aksi kriminal terhadap kebebasan pers. Itu sama artinya tidak masalah jika melakukan kekerasan terhadap pers,”ujar Asdar Zuula.

Asdar menilai Presiden perlu meninjau ulang pemberian remisi kepada otak Pembunuhan Redaktur Senior Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, karena apapun dalihnya, hal tersebut menciderai rasa keadilan dan menambah kelam Iklim Kemerdekaan Pers yang didengungkan banyak pihak.

“Pers harus tegak dan dilindungi tanpa pengecualian, karena pers yang sehat menunjukkan tatanan demokrasi berbangsa dan bernegara yang maju,” tegasnya.

Untuk diketahui, Susrama diadili karena kasus pembunuhan terhadap jurnalis, Prabangsa, 9 tahun lalu.

Pembunuhan itu terkait dengan berita dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkannya dan oleh Prabangsa dimuat di harian Radar Bali, dua bulan sebelumnya.

Hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan bahwa Susrama adalah otak di balik pembunuhan itu. Ia diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli, 11 Februari 2009.

Prabangsa lantas dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Di sanalah ia memerintahkan anak buahnya memukuli dan akhirnya menghabisi Prabangsa.

Dalam keadaan bernyawa Prabangsa dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung. Prabangsa lantas dibawa naik perahu dan dibuang ke laut. Mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian.(waa)


Tulis Komentar Anda Disini