Katela, Pulau Seribu Bagang Dengan Keunikannya Di Bulan Ramadhan

Katela, Pulau Seribu Bagang Dengan Keunikannya Di Bulan Ramadhan

OKESULTRA.COM, LAWORO – Pulau Katela merupakan salah satu pulau dengan sejuta pesona keindahan, secara administratif pulau ini masuk dalam wilayah Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kabupaten Muna Barat dan berpenghuni hampir seratus persen beragama Islam.

Pulau yang berada di Selat Tiworo ini memiliki garis pantai kurang dari 1,5 kilometer dengan luas wilayahnya kurang dari 8 (delapan) hektar.

Hanya butuh waktu lebih kurang 20 menit buat kami untuk menuju pulau yang dikenal dengan sebutan pulau seribu bagang ini dari pelabuhan-pelabuhan kecil di Muna Barat.

Pulau ini didiami oleh lebih kurang 500 keluarga dengan mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, pembudidaya ikan dan rumput laut.

Pulau Katela memang memiliki sejumlah destinasi wisata yang menarik di sisi pemandangan alamnya. Namun jangan salah, kebudayaan yang dimilikinya pun cukup menarik untuk dijadikan target berwisata, terlebih jika Anda mengunjunginya di Bulan Ramadhan.

Pasalnya, di Bulan Ramadhan, seluruh masyarakat asal Pulau Katela yang merantau dari berbagai kalangan akan pulang untuk merayakan puasa di tanah kelahirannya.

Para wisatawan yang kerap berkunjung di daerah Katela sangat menikmati suasana disana, di tambah dengan keramahan masyarakat nya cukup menjadi alasan penambah betah para wisatawan ketika berkunjung.

Katela, Pulau Seribu Bagang Dengan Keunikannya Di Bulan Ramadhan

Saat sore hari sembari menunggu waktu berbuka puasa biasanya pemuda dan orang tua bersama-sama berkumpul di ujung jembatan sedangkan Ibu-ibunya sibuk menyiapkan santapan berbuka puasa dengan berbagai jenis makanan laut misalnya cumi-cumi, udang, kepiting, kerang-kerangan serta beberapa jenis hewan laut unik nan segar lainnya.

Saat malam tiba lantunan ayat-ayat suci terus terdengar dari masjid yang letaknya tepat berada ditengah-tengah kampung itu,

Satu hari sebelum lebaran para pemuda yang terbilang sukses di perantauan mempunyai kebiasaan bersedekah kepada warga yang kurang mampu, janda-janda tua dan para anak yatim serta diadakan bersih-bersih seluruh pulau termasuk membersihkan makam keluarga yang tepat berada disamping masjid kampung.

Puncak dari keistimewaan dibulan ramadhan adalah ketika malam terakhir sebelum perayaan Idul fitri dimana seluruh masyarakat mengumpulkan tempurung kelapa yang kemudian disusun rapi dan dibakar didepan halaman rumah masing-masing sebagai wujud rasa syukur karena berjumpa dengan bulan suci dan berharap agar dapat berjumpa dengan ramadhan lagi di tahun yang akan datang.

Keesokan harinya seluruh masyarakat berkumpul di halaman masjid untuk melaksanakan shalat ied kemudian saling bermaaf-maafan satu sama lain.


Laporan : Dennis
Editor : Wiwid Abid Abadi

Tulis Komentar Anda Disini