Adly Yusuf Saepi (Foto: Istimewa).

OKESULTRA.COM, TIRAWUTA – Mantan komisioner KPU Kolaka Timur (Koltim), Adly Yusuf Saepi periode 2014-2019 yang juga eks peserta seleksi calon anggota KPU Kolaka Timur yang digugurkan oleh timsel dalam tahap administrasi yang hingga kini masih berjuang dan berharap agar hasil seleksi tersebut dapat dibatalkan oleh KPU RI dan proses seleksi diulang sebab dinilai cacat hukum dan inprosedural.

“Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kepolisian Daerah dan Kejaksaan Tinggi Sultra yang telah bekerja secara profesional, responsif dan serius dalam hal menindaklanjuti laporan polisi Muh. Ali dan Siswanto Azis,  eks peserta seleksi calon anggota KPU Kolaka dan Kolaka Timur,” terang Adly, Jumat (8/2/2019).

Adly bercerita terkait ia dan kuasa hukumnya, Rabdhan Purnama dari Kantor Hukum Advokat Andre Darmawan Law Firm mendampingi para pelapor Muh. Ali dan Siswanto Azis membuat Laporan Polisi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sultra pada 11 Desember 2018 lalu.

“Hingga saat ini baik Polda maupun Kejati tersebut masih terus bekerja memeriksa saksi-saksi dan mendalami bukti-bukti terkait dan telah masuk pada tahap penyelidikan,” ucap Adly Yusuf Saepi.

Seperti diketahui, Muh. Ali dalam laporan Polisi Nomor: LP/631/XII/2018/SPKT Polda Sultra, tertanggal 11 Desember 2018 lalu melaporkan oknum eks anggota KPU Koltim periode 2014-2019 berinisial IW dan oknum staf PNS Biro SDM dan Perencanaan KPU Sultra berinisial NI.

Keduanya dilaporkan karena diduga membocorkan dokumen negara berupa bank soal tes CAT KPU beserta kunci jawabannya, dengan cara menjual soal CAT tersebut dengan harga Rp 5 juta kepada peserta seleksi  sebelum Tes CAT KPU dilaksanakan pada 19 November 2018.

Sedang Siswanto Azis dalam laporan Polisi Nomor: LP/632/XII/2018/SPKT Polda Sultra, tertangga 11 Desember 2018, juga melaporkan oknum ketua timsel calon anggota KPU Kolaka dan Koltim Periode 2018-2023 inisial SN, sebab diduga melakukan tindak pidana pemerasan dengan meminta sejumlah uang Rp 50 juta kepada pelapor pasca tahapan tes kesehatan dan seleksi wawancara sebagai syarat untuk dapat diloloskan dalam 10 besar calon anggota KPU Kolaka.

Selain melapor di Polda, Muh. Ali juga melaporkan oknum anggota timsel calon anggota KPU Kolaka dan Koltim berinisial PE ke pihak Kerjati sesuai tanda terima surat dan laporan pelapor pada 12 Januari 2018 sesuai dugaan terlapor melakukan tindak pidana pemerasan dan pungli dengan meminta sejumlah uang kepada peserta seleksi sebesar Rp 75 juta dengan modus yang sama agar dapat diloloskan dalam 10 besar calon anggota KPU.

Adly berharap pihak penegak hukum untuk menindaklanjuti secara lebih mendalam dengan menetapkan para terlapor sebagai tersangka sesuai dengan barang bukti dan alat bukti yang telah diserahkan dan disampaikan para pelapor kepada penyidik dan melimpahkannya ke Kejaksaan serta membawa perkara tersebut ke meja hijau untuk di sidangkan.

“Sehingga secepatnya ada kepastian hukum atas laporan dugaan tindak pidana yang telah dilaporkan oleh kedua Pelapor yakni Muh. Ali dan Siswanto Azis, dan sebagai bentuk efek jera bagi para oknum pelaku atau terlapor atau siapapun warga negara yang diberikan amanah oleh Undang-Undang untuk tidak mengulangi atau melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan perundang-undangan,” tegasnya.

Ditempat terpisah, Muh. Ali saat dikonfirmasi mengucapkan terima kasih kepada Polda dan Kejati Sultra yang sangat serius dan antusias dalam menindaklanjuti laporannya, namun Muh. Ali tetap berharap dalam waktu dekat aparat penegak hukum agar memproses dan melengkapi serta melimpahkan laporan atau kasus tersebut di pengadilan untuk segera di sidangkan.(asl)


 

Tulis Komentar Anda Disini