OKESULTRA.COM, JAKARTA – Koprs HMI-Wati (KOHATI) merupakan lembaga khusus didalam tubuh HMI yang terus fokus dengan isu perempuan. Dalam ragka menyambut HUT RI Ke- 74 Tahun KOHATI PB HMI menggelar diskusi publik dengan mengundang Politisi PPP (Lena Maryana Mukti), Politisi perempuan dari kalangan kaum milenial (Farah Puteri Nahlia), dan LBH APIK ( Siti Husna Leby) sebagai pembicara. Diskusi tersebut dihadiri oleh Fungsionaris PB HMI, Kohati PB HMI dan kader HMI sekawasan HMI Badko Jabodetabeka Banten pada hari Kamis,15 Agustus 2019, bertempat disekretariat PB HMI

Demi membawa misi HMI, KOHATI terus merespon persoalan keperempuanan dan anak serta mengawal kebijakan dan agenda yang pro perempuan dan anak. Dalam mengawal kebijakan tersebut, Kohati bekerjasama dan berjejaring dengan organisasi mahasiswa, organisasi perempuan dan elemen lainnya. Gerakan Kohati secara rutin adalah melakukan Pembinaan, pendidikan dan pengawalan. Untuk mensinergikan Gerakan Kohati secara keseluruhan.

Dalam KBBI arti kata merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dri tuntutan, tidak terikat, leluasa. Dengan demikian diskusi yang diselenggarakan KOHATI PB HMI tersebut merupakan usaha untuk mengevaluasi sejauh mana kemerdekaan yang sudah dirasakan oleh kaum perempuan dan anak. Didalam Pembukaan UUD 45 jelas dinyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa tidak terkecuali perempuan dan anak.

Hal tersebut dijelaskan Ketua Umum KOHATI PB HMI, Siti fatimah Siagian melalui rilisnya (16/8), Ia mengatakan setelah 74 tahun usia kemerdekaan RI namun permasalahan perempuan dan anak tidak kunjung usai. Permasalahan yang menimpa perempuan dan anak bukanlah masalah yang sepele, perempuan adalah tiang negara, begitupun dengan anak adalah aset bangsa. Menurutnya Kalau asetnya bermasalah sudah tentu usahanya juga akan bermasalah.

“Setelah 74 tahun usia kemerdekaan RI namun permasalahan perempuan dan anak tidak kunjung usai. Permasalahan yang menimpa perempuan dan anak bukanlah masalah yang sepele, ini merupakan masalah yang berdampak pada masa depan bangsa, perempuan adalah tiang negara, bagaimana mungkin negara kita ingin menjadi negara yang baik kalau tiangnya saja bermasalah, begitupun dengan anak, anak adalah aset bangsa. Kalau asetnya bermasalah sudah tentu usahanya juga akan bermasalah. Jadi penting rasanya kita semua menyadari hal ini, dan fokus mencari solusi dalam menyelesaikan permasalahan ini.” Jelasnya

Senada dengan hal tersebut Sekretaris Umum KOHATI PB HMI, Mutya Gustina juga menambahkan bahwa dalam ruang politik jumlah perempuan yang terpilih dan berhasil masuk senayan melalui Pemilu bulan april kemarin mengalami peningkatan, artinya kepekaan perempuan dalam mengambil peran kini sudah meningkat dan menjadi angin segar juga untuk penyelesaian permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Jumlah perempuan yang terpilih dan berhasil masuk senayan melalui Pemilu bulan april kemarin mengalami peningkatan, artinya kepekaan perempuan dalam mengambil peran kini sudah meningkat, tentunya ini menjadi angin segar juga untuk penyelesaian permasalahan kekerasan terhadap peremuan dan anak,” tambahnya.

Laporan : Iwan

Tulis Komentar Anda Disini