Warga saat mengadukan Polsek Wawonii Tengah ke ORI Sultra (Foto : Onno/Okesultra.com)
Warga saat mengadukan Polsek Wawonii Tengah ke ORI Sultra (Foto : Onno/Okesultra.com)

OKESULTRA.COM, KENDARI – Hadade (52) warga Desa Rawa Indah, Kecamatan Wawonii Tengah, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) mengadukan Polsek Wawonii Tengah ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sultra terkait kasus penganiayaan yang dialaminya.

Korban mendatangi kantor Ombudsman didampingi oleh keluarganya. Maksut kedatangan Hadade ke ORI adalah untuk mengadukan kinerja Polsek Wawonii Tengah dan menyerahkan aduan yang terdiri dari enam poin penting.

Dari enam poin yang diadukan ke ORI, salah satu poinya adalah dalam laporan polisi yang dibuat Polsek Wawonii Tengah, tidak ada nomor surat dan nomor laporan polisi atau registrasi serta pasal yang diterapkan tidak sejalan dengan apa yang dialami korban.

Selanjutnya, sejak korban melapor, korban tidak pernah menerima perkembangan perkara, diduga pelaku penganiayaan berinisial SB dan tiga rekannya tidak dilakukan penangkapan serta penahanan. Bahkan diduga saat ini para pelaku masih bebas berkeliaran di Wawonii.

Kepada Okesultra.com, Hadade menceritakan awal kejadian kasus penganiayaan yang menimpa dirinya. Kejadian itu terjadi pada tanggal 29 Mei 2018. Dimana saat itu korban baru sampai dari Desa Tambaone, Kecamatan Wawonii Utara. Setelah sampai dikediamannya, tiba-tiba pelaku datang berboncengan dengan rekannya langsung menghadang korban.

“Tak lama kemudian menyusul dua orang lagi berboncengan di motor langsung menabrak saya. Tiba-tiba juga mereka memukul dan mengenai kepala saya pada bagian belakang serta mengenai beberapa bagian tubuh lainnya,” terang Hadade saat ditemui di kantor Ombudsman RI perwakilan Sultra.

Ditempat yang sama, Jumali Lambie selaku keluarga korban mengungkapkan identitas diduga pelaku penganiayaan pasa tanggal 29 Mei 2018 lalu, penganiayaan tersebut diduga dilakukan empat orang diantaranya beriisial A, S dan Z. Satu diantaranya diduga merupakan adik Wakil Bupati Konkep, Andi Muhammad Lutfi.

“Setelah kejadian itu, korban langsung melaporkan kasus penganiayaan ke Polsek Wawonii Tengah dan diarahkan untuk dilakukan visum di Rumah Sakit Langara,” katanya.

Dia berharap, agar kasus ini tetap berlanjut dan cara penanganan perkaranya sesuai undang-undang yang berlaku, agar masalah ini dapat selesai.

Yang membuat kecewa keluarga korban adalah penerapan pasal yang seharusnya pasal 351 tentang penganiayaan, namun Polsek Wawonii Tengah menerapkan pasal 352 tindak pidana ringan.

“Kami datang ke Ombudsman, untuk mencari keadilan. Agar hal ini tidak terulang lagi,” ujarnya lagi.

Ditempat yang sama, Ketua Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sultra, Mastri Susilo membeberkan, laporan masyarakat yang masuk akan diterima oleh tim verifikasi laporan (TVL) untuk melihat apakah laporan itu memenuhi syarat formal dan material.

“Kalau memenuhi syarat akan dirapatkan (pleno), untuk memutuskan apakah laporan itu ditindaklanjuti atau tidak,” ujarnya.

Laporan : Onno
Editor : Wiwid Abid Abadi

Tulis Komentar Anda Disini