OKESULTRA.COM, KENDARI – Ombudsman Republik Indonesia (ORI) secara resmi telah mengeluarkan rekomendasi ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI tentang kasus dugaan plagiat yang dilakukan Rektor Universitas Haluoleo (UHO) Kendari, Muh Zamrun Firihu.

“Iya (Sudah ada rekomendasi), sekarang sedang konfrensi pers tentang itu,” terang Kepala ORI, La Ode Ida saat dikonfirmasi jurnalis Okesultra.com melalui WhatsApp, Senin (3/12/2018).

La Ode Ida menyebut, rekomendasi yang dilayangkan ke Kemenristekdikti sama dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) ORI yang pernah dirilis sebelumnya.

“(Isinya) Sama dengan LHP,” kata La Ode Ida menjawab pertanyaan jurnalis Okesultra.com tentang bagaimana isi rekomendasi yang dilayangkan ORI ke Kemenristekdikti tentang dugaan plagiat Rektor UHO.

Dikutip dari laman Detik.com, pada 29 Januari 2018 ORI menggelar jumpa pers Laporan Hasil Pemeriksan (LHP) soal laporan dugaan Plagiat Rektor UHO di Gedung ORI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

ORI menyatakan Rektor Universitas Halo Oleo (UHO) Kendari Sulawesi Tenggara, Muh Zamrun Firihu, melakukan plagiat parah dan meminta Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir diminta memberikan sanksi tegas dengan mencabut gelar Profesornya.

La Ode Ida juga menyatakan berdasarkan laporan hasil pemeriksaan Zamrun sudah tak pantas lagi menjabat dan menyandang gelar profesor.

Ada tiga karya ilmiah Zamrun yang diperiksa kadar plagiatnya. Ini berdasarkan permintaan keterangan dari pihak pelapor. Pelapor adalah 30 orang guru besar. Berikut adalah tiga judul karya ilmiah dari guru besar ilmu fisika itu yang diperiksa oleh pihak Ombudsman:

1. Microwaves Enhanced Sintering Mechanisms in Alumina Ceramic Sintering Experiments.

2. 2.45 GHZ Microwave Drying of Cocoa Bean.

3. Role of Triple Phonon Excitations in Large Angle Quasi-elastic Scattering of Very Heavy Mass Systems.

Pelapor menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan melalui scopus.com dan plagiarism checker Small SEO Tools, terdapat bukti bahwa Zamrun melakukan plagiat terhadap karya peneliti lain. Situs turnitin juga mendeteksi adanya plagiarisme di karya Zamrun.

“Turnitin (situs) mendeteksi ada 72% kesamaannya. Itu sudah sangat fatal,” kata dia.

Maka dari semua langkah itu kemudian Ombudsman membuat simpulan bahwa karya ilmiah Zamrun merupakan bentuk plagiat terhadap karya ilmiah lainnya.

Zamrun dinyatakannya melanggar kode etik profesi pendidik yang menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas intelektual.

Menurut La Ode Ida, plagiatisme yang diduga dilakukan Zamrun melanggar sejumlah pasal dalam UU, antara lain UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi khususnya Pasal 28 ayat 5, UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Khususnya terkait Pasal 40 ayat 1 dan Pasal 44 ayat 1, dan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Pasal 25 ayat 2 dan Pasal 40 ayat 2, juga Pasal 70.

Zamrun juga dinilai melanggar PermenPANRB Nomor 17 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya, Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, Permendikbud Nomor 92 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional Dosen, dan Permenristekdikti Nomor 19 Tahun 2017 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Pemimpin Perguruan Tinggi.(A)


Laporan : Wiwid Abid Abadi

Tulis Komentar Anda Disini