OKESULTRA.COM, KENDARI – Desa Alebo, kecamatan Konda, kabupaten Konawe Selatan (Konsel) merupakan salah satu sentra penghasil sayur terbesar di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menyuplai kebutuhan sayur khususnya di kota Kendari.

Mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani sayur dan peternak, alah satu kelompok tani ternak yang terdapat di desa Alebo, kelompok ternak Gemilang memiliki usaha budidaya kambing dan bertanam sayur. Selama ini mereka telah memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk walaupun secara langsung.

“Biasanya kami gunakan kotoran kambing utuh begini (yang masih segar-red) di kebun sayur sebagai pupuk, namun hasilnya lama baru terlihat” ungkap Ketua Kelompok Tani Ternak Gemilang, Sucipto.

Penggunaan kotoran kambing secara langsung sebagai pupuk memang memiliki kendala lama terurai, karena kotoran kambing memiliki kadar air yang rendah, sehingga bertekstur keras.

“Perlu dilakukan pengolahan, yaitu dengan memfermentasinya beberapa saat dengan bakteri pengurai, agar lebih cepat terurai di dalam tanah” jelas Natsir Sandiah, ketua Tim Pengabdian FPt UHO ketika ditemui di sela–sela acara pelatihan pembuatan pupuk organik di desa Alebo 10 November 2018 lalu.

Melalui program kemitraan masyarakat “Aplikasi Teknologi Pupuk Kandang Berbasis Kotoran Kambing untuk Produksi Sayur Organik di Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara”, tim pengabdian yang terdiri dari Ir. Natsir Sandiah M.P, Hamdan Has, S.Pt, M.Si dan Widhi Kurniawan S.Pt, M.Si berusaha mengoptimalkan penggunaan pupuk kandang kambing untuk budidaya sayur di kelompom ternak Gemilang desa Alebo.

Pada program ini, para anggota kelompok Tani Ternak Gemilang dilatih secara langsung metode sederhana dengan teknologi tepat guna untuk menghasilkan pupuk kandang kambing yang terfermentasi.

Para petani dan peternak juga bakal diberikan penjelasan tentang keunggulan pupuk kandang dibandingkan dengan pupuk anorganik atau pupuk kimia yang saat ini banyak digunakan oleh para petani.

Salah satu anggota tim pengabdian, Hamdan Has mengungkapkan bahwa para peternak dapat meningkatkan daya guna kotoran kambing ini dengan cara pengolahan ini, dan nilai ekonomisnya akan meningkat pula bila dibandingkan dengan penggunaan atau penjualan kotoran kambing secara langsung.

Disaat yang sama, Tim Pengabdian FPt juga mengenalkan jenis sayuran yang relatif baru untuk para petani sayur, yaitu Pakcoy. Sayur jenis tersebut memiliki harga yang tinggi dan masih belum dibudidayakan di sekitar Kendari, padahal permintaan untuk jenis sayur ini mulai muncul dari rumah makan tertentu.

“Dengan mereka menanam Pakcoy secara organik, diharapkan pendapatan mereka dapat meningkat, karena sayur ini tergolong sayur khusus, harganya pun juga relatif bagus,” ujar Widhi Kurniawan.

Untuk diketahui, kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang didanai oleh LPPM Universitas Halu Oleo melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat dana internal universitas tahun 2018.(B)


Laporan: Andise SL

Tulis Komentar Anda Disini